Pengaruh Televisi Terhadap Tumbuh Kembang Anak

Pengaruh Televisi Terhadap
Tumbuh Kembang Anak
Oleh :
Ahmad Raihan
raihan_16cvc@yahoo.co.id
Dipublikasikan dan didedikasikan
untuk perkembangan pendidikan di Indonesia melalui
MateriKuliah.Com

PENGARUH TELEVISI PADA TUMBUH KEMBANG ANAK
BELAKANGAN ini media massa menyajikan pandangan yang pro dan kontra terhadap draf Komisi Penyiaran Indonesia tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran. Sebagian orang merasa apa yang diperdebatkan itu tak berkaitan langsung dengan kepentingan mereka, apalagi untuk anggota keluarga di rumah.
PADAHAL, JUSTRU merekalah menjadi konsumen utama siaran televisi. Apa ditampilkan pesawat di ruang keluarga sehari-hari bakal mewarnai kehidupan keluarganya kini, bahkan sampai masa mendatang. Sayangnya, selama ini bisa dikatakan tak banyak orangtua yang memberi perhatian pada pengaruh televisi terhadap tingkah laku atau kebiasaan anak-anaknya.
Hal ini bisa dilihat dari sedikitnya respons pemirsa yang muncul terhadap program-program yang ditayangkan di layar kaca. Pemirsa di Indonesia tampaknya lebih suka menelan apa saja acara yang muncul pada pesawat televisinya. Mereka lebih memilih diam, dan tinggal memencet remote control bila acara yang ditampilkan satu stasiun televisi tidak sesuai dengan seleranya. Sebagian orangtua bahkan tak peduli acara apa yang ditonton anaknya.
Sepanjang si anak tidak bertanya atau bercerita, umumnya orangtua merasa apa pun yang disuguhkan televisi sebagai “teman” anaknya selama mereka tidak berada di rumah tak perlu dipermasalahkan.
Kalau toh ada pengaruh buruk televisi terhadap sebagian orang, maka sebagian lainnya menganggap hal itu sama sekali bukan urusannya. Padahal, sangat mungkin pengaruh buruk itu pun mengenai anggota keluarganya, hanya dia tak cukup jeli atau punya cukup waktu untuk memperhatikannya.
Ketika seorang ibu di Jakarta menulis surat pembaca tentang anak balitanya (berusia di bawah lima tahun) yang tiba-tiba gagap dan tidak lagi berbicara normal 5 seperti biasa, ibu tersebut amat terkejut. Setelah diselidiki ternyata si anak mengikuti cara bicara Yoyo dalam sinetron Si Yoyo yang ditontonnya lewat layar kaca.
Meski ada keluhan yang mengemuka, toh sinetron itu tetap ditayangkan seperti biasa. Bagi umumnya pengelola stasiun televisi, sepanjang program tersebut bisa mengundang pengiklan berarti tak ada masalah. Hal ini juga berlaku, misalnya, pada protes sebagian orangtua ketika stasiun televisi menayangkan acara anak-anak pada pagi hari. Acara itu menyerap perhatian
si anak hingga mengganggu persiapan mereka pergi ke sekolah. Namun, ibarat pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu, maka program itu pun tetap berjalan. Silakan para orangtua sibuk membujuk anaknya agar mengalihkan perhatiannya dari layar kaca.
DARI pengamatan psikolog Elly Risman seperti dikemukakannya pada lokakarya “Mengkritisi Draf Standar Tayangan Anak dan Remaja” yang diadakan Unicef bekerja sama dengan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) minggu lalu, orangtua yang diharapkan bisa berfungsi sebagai “sensor” untuk anak-anaknya dalam menonton televisi, kerap kali justru berfungsi sebaliknya, menjadi “pendorong” bagi anaknya untuk menonton televisi.
Dari penelitian kecil yang dilakukannya, Elly berkesimpulan, sebagian besar orangtua-terutama dari kalangan masyarakat kelas menengah dan bawah-justru menjadikan anak-anaknya sebagai pemirsa televisi setia.
“Kalau ibunya bekerja, mereka akan berpesan pada anaknya untuk menonton sinetron anu.
Setelah ibunya pulang, si anak menceritakan kisahnya agar si ibu tak ketinggalan cerita. Atau si ibu minta anaknya nonton AFI supaya ibunya tak ketinggalan berita siapa saja yang kena eliminasi,” tuturnya.
Padahal, berdasarkan penelitian YKAI seperti dikemukakan B Guntarto,
sekarang ini umummya anak sudah menghabiskan waktunya di depan televisi selama
35 jam seminggu atau sekitar lima jam sehari. Sedangkan idealnya, anak menonton
6
televisi tak lebih dari dua jam per hari.
“Meskipun belakangan ini sebagian stasiun televisi sudah mencantumkan
tanda bahwa program itu untuk orang dewasa, memerlukan bimbingan orangtua, atau
memang acara yang dianggap pantas ditonton anak-anak, kenyataannya hanya sekitar
15 persen saja anak yang mengatakan selama menonton televisi didampingi oleh
orangtuanya,” Guntarto menambahkan.
Artinya, masih banyak orangtua Indonesia yang tak sadar pada dampak
televisi terhadap perkembangan anak-anak mereka, apalagi mengkritisi acara-acara
yang ditayangkan dari pagi hingga malam hari. Padahal, televisi sekarang ini bisa
dikatakan bukan lagi barang mewah.
John Budd, Kepala Seksi Advokasi & Mobilisasi Sosial Unicef, mengatakan,
televisi telah menjangkau sekitar 90 persen rumah tangga di Asia, termasuk
Indonesia. Artinya, pengaruh televisi dalam kehidupan sehari-hari keluarga
Indonesia tak bisa diremehkan.
Agus (33), ayah dari seorang anak laki-laki berusia 5,5 tahun, mengatakan,
dia tak lagi mengizinkan anaknya menonton sinetron Si Yoyo setelah membaca
keluhan ibu tentang perubahan cara bicara anaknya di koran. “Dalam sinetron Si
Yoyo memang tidak ada adegan-adegan orang dewasa, tetapi di sana ada cerita
tentang bencong. Dan, cara ayah si Yoyo marah-marah itu terlalu kasar buat mata
anak-anak,” katanya memberi alasan.
Dia termasuk orangtua yang memperhatikan apa saja acara kesukaan anaknya
di layar kaca. Makanya, meski program film kartun sekalipun tak selalu bisa ditonton
anaknya. “Misalnya film kartun Baby Huey. Di sini ditampilkan bagaimana salah
satu tokohnya pecah dan bisa menyatu kembali dalam susunan yang kacau. Ada juga
tiang dan tali untuk gantung diri. Menurut saya, hal ini terlalu berlebihan untuk anakanak,”
lanjut Agus.
MEMANG tak semua pengaruh televisi bisa langsung tampak akibatnya pada
anak-anak yang menjadi pemirsanya. Mungkin karena itulah sampai sekarang masih
banyak orangtua yang membiarkan apa pun acara yang ingin ditonton anaknya,
7
sepanjang itu tak lebih dari pukul 21.00.
Sebagian orangtua beranggapan, stasiun televisi telah menyeleksi program
acaranya. Dengan demikian, semua acara yang ditayangkan sebelum sekitar pukul
21.00 relatif aman untuk konsumsi anak-anak. Padahal kalau dicermati, tak sedikit
acara sebelum pukul 21.00 yang sebenarnya tak pantas ditonton anak-anak.
Misalnya, film-film Warkop yang jelas-jelas selalu menyerempet pada hal-hal berbau
seks.
Hera L Mikarsa dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dalam
lokakarya itu menyoroti antara lain program yang mengetengahkan hal-hal berbau
supranatural. “Bagaimana perlindungan untuk anak-anak, terutama anak-anak
prasekolah yang belum dapat membedakan realitas dan fantasi?” ujarnya.
Sebuah penelitian tentang pengaruh televisi dan kemampuan otak anak yang
dilakukan para ahli dari University of Washington, Seattle, Amerika Serikat, dan
dimuat dalam jurnal Pediatrics menyebutkan, televisi telah mengubah cara berpikir
anak. Anak-anak yang terlalu banyak menonton televisi biasanya akan tumbuh
menjadi sosok yang sulit berkonsentrasi dan kurang perhatian pada lingkungan
sekitar. Mereka hanya terpaku pada televisi.
Penelitian yang melibatkan lebih dari 2.500 anak itu juga menyebutkan
bahwa satu jam menonton televisi sehari pada anak-anak usia 0 sampai tiga tahun
akibatnya baru tampak ketika mereka berusia sekitar tujuh tahun. Sebagian anak itu
mengalami problem berkonsentrasi.
Padahal di Jakarta, misalnya, tak jarang seorang ibu justru mendudukkan
anak balitanya di depan televisi agar si anak mau makan, atau supaya anaknya asyik
menonton televisi sementara si ibu mengerjakan pekerjaan lainnya. Mereka tak sadar
bahwa tayangan televisi itu akan mempengaruhi perkembangan otak si anak.
Pada usia balita perkembangan otak tumbuh pesat, dan ini dipengaruhi oleh
stimulasi yang diterima si anak dari lingkungan sekitarnya. Agar tak menimbulkan
masalah pada anak di kemudian hari, The American Academy of Pediatrics bahkan
merekomendasikan agar orangtua tak membiarkan anaknya yang berusia di bawah
8
dua tahun untuk menonton televisi.
Begitu besarnya ketergantungan anak-maupun sebagian orangtua-pada
televisi, hingga dalam menentukan tempat tujuan liburan pun sering kali keberadaan
televisi menjadi salah satu pertimbangannya. Marianne (13) yang sejak kecil
terbiasa ditemani televisi, bahkan memilih tidak ikut pergi daripada kehilangan
acara televisi yang diminatinya.
Oleh karena itulah sebaiknya orangtua tak menyerahkan begitu saja seleksi
acara yang bisa ditonton anaknya pada pengelola stasiun televisi. Jangan berharap
stasiun televisi hanya menayangkan program yang cocok untuk semua umur pada
jam di mana biasanya anak belum tidur.
Sebagai bagian dari industri, stasiun televisi lebih menyandarkan diri pada
kepentingan bisnis demi kelangsungan hidupnya. Bisa jadi mereka tak terlalu peduli
apakah program itu berpengaruh buruk atau baik untuk keluarga Anda. Salah satu
faktor yang menjadi perhatian pengelola stasiun televisi adalah bagaimana membuat
program yang bisa menarik minat pengiklan.
Kalau sekarang layar kaca dipenuhi dengan acara “seragam” seperti program
supranatural, komedi yang menjurus ke masalah seks, atau acara kenyataan (reality
show) dengan berbagai bentuknya, maka diperlukan perhatian Anda untuk
menyeleksi tontonan yang disodorkan stasiun televisi.
Sumber : Harian Kompas, 2006. Pengaruh Televisi Pada Tumbuh Kembang Anak. Htttp://www.kompas.com
9
ANALISA DAN PEMBAHASAN
TELEVISI merupakan media yang paling luas dan mudah dikonsumsi
masyarakat Indonesia. Televisi telah menjadi kebutuhan keluarga yang sudah
menjadi kebutuhan primer. Setiap keluarga, mulai dari pelosok Tanah Air hingga
masyarakat perkotaan sudah memiliki televisi di rumah masing-masing.
Televisi diciptakan John Logie Baird. Televisi merupakan salah satu alat
komunikasi. Hampir semua orang yang tinggal di kota-kota besar maupun sebagian
di daerah pedesaan sudah pernah melihat acara televisi. Dengan adanya televisi, kita
dapat melihat dan mengetahui berbagai informasi dan kejadian di dalam maupun di
luar negeri. Contohnya- kita dapat melihat bagaimana terjadinya bencana alam
tsunami di Aceh, bagaimana Gunung Merapi mengeluarkan {lahar papas, situasi
perang di Irak serta lumpur papas di Sidoarjo.
Dengan adanya televisi masyarakat dapat dengan mudah memperoleh
informasi. ilmu pengetahuan, dap mengakses program televisi yang disukainya,
tanpa memerlukan pengorbanan yang berat. Kites bisa langsung memencet angka
tombol berapa pada televisi dap stasiun televisi mans yang kites inginkan.
Selain kita mengetahui berbagai macam informasi, televisi jugs merupakan
sarana hiburan, balk berupa acara film, sinetron, musik, ilmu pengetahuan, dunia
flora dan fauna, dunia Taut, berbagai acara kuis yang dapat membuat seseorang
menjadi kaya mendadak.
Selain memberi dampak positif, ternyata televisi jugs memberi dampak
negatif. Contoh, sekarang ini banyak acara sinetron yang isi ceritanya penuh dengan
kekerasan, kesombongan, iri hati pada keberhasilan prang lain, juga .Smack Down
yang sedang ramai dibicarakan karma menimbulkan korban jiwa.
Bagaimana kits mengatasi dampak negatif? Apakah kites sebagai anak-anak
tidak boleh menonton televisi padahal kami butuh acara-acara yang bermanfaat. Hal
ini menjadi tugas bagi semua saluran televisi swasta untuk mengatur jam tayang
maupun multi dari setiap acara. Jangan hanya berusaha mencari rating yang tinggi
10
dengan mendapatkan banyak iklan. Seharusnya setiap stasiun TV memperbanyak
acara yang dapat ditonton secara umum seperti film ilmu pengetahuan dan film yang
ceritanya bisa mendidik dapat menjadi contoh yang baik.
Buku yang ditulis Sunardian Wirodono berjudul Matikan TV-mu’ ini
setidaknya ingin mengulas dan memaparkan beberapa realitas tayangan televisi yang
penuh dengan fatamorgana, hiperealitas dan bertendensi mengeksploitasi pemirsa.
Misalnya tayangan sinetron religius, game zone, infotainment, reality show, dan
uang kaget.
Lebih ironisnya lagi, berita kriminal yang ditayangkan televisi itu juga sering
kali bersifat diskriminatif dan hanya menyoroti penjahatnya. Seolah-olah pelaku
kejahatanlah yang salah. Polisi datang sebagai hero yang menolong masyarakat. Itu
merupakan manipulasi setting yang perlu mendapatkan penilaian ulang.
Di sisi lain, acara-acara audisi seperti AFI, KDI, API, dan Indonesian Idol
dengan cara mengirimkan short message service (SMS) untuk memilih pemenang
cenderung materialistis. Kemenangan sudah tidak mementingkan kualitas, tetapi
kuantitas. Nilai-nilai kecerdasan, kapabilitas, keahlian, dan profesionalitas tidak
diakui lagi. Tak ayal lagi, bila paradigma yang digunakan dalam dunia pertelevisian
adalah pragmatis, populis, dan kapitalis.
Acara televisi itu akhirnya juga berpengaruh buruk terhadap kondisi pada
anak-anak yang menjadi korban utama. Sebab mereka belum mampu memfilter
tayangan yang bermanfaat (meaningfull) dan tak berarti (meaningless). Selain itu,
pengaruh pada anak remaja secara implisit bisa membentuk pribadi yang tak
memiliki pengalaman empiris untuk bersosialisasi, menjadi pribadi pasif. Sedangkan
pengaruh terhadap kaum ibu rumah tangga, mereka dibuat kehilangan jati diri,
kepercayaan dirinya rela diombang-ambingkan beragam tayangan televisi.
Perlu diketahui, televisi tidak hanya memberikan ruang kebebasan dan
diplomasi virtual. Namun, juga menciptakan kesadaran baru. Padahal seharusnya
media harus memberikan proses learning social norms yang lebih intensif. Tetapi,
dampaknya bisa buruk dan negatif. Itu tergantung pada pemirsa bagaimana
menyikapi beberapa acara televisi yang di suguhkan. Dengan begitu, setidaknya
pemirsa harus memiliki daya nalar, daya persepsi, daya abstraksi dan daya tawar
11
yang memadai. Nalar yang kritis inilah yang hingga kini belum terkonstruksi kepada
masyarakat.
Ketika pemirsa diteror (ancaman) melalui media televisi, secara tak langsung
mereka akan mengalami pendangkalan pikiran dan pembodohan. Realitas virtual
yang dikonstruk televisi dengan kejahatan, kekerasan,; dan seksualitas serta acara
Man-iklan lainnya juga semakin membuat cara berpikir manusia statis, stagnan dan
cupet.
Wirodono sebagai seorang yang memiliki kompetensi dan pengalaman di
bidang pertelevisian di Indonesia ini melalui bukunya ingin mengkritik beberapa
stasiun televisi seperti Indosiar, ANTV, RCTI, SCTV TPI, Metro TV, Global TV,
Lativi, Trans TV dan TV-7, yang sebagian kecil acaranya tidak memberikan nilainilai
edukatif, cenderung membohongi dan memanipulasi acara televisi. Sehingga
membuat masyarakat menjadi bodoh, tidak kritis, apatis, eskapis, terlena, pemimpi,
pelupa, pesimistis, dan skeptis. Dengan gaya kehidupan yang hedonistis dan
konsumeristis.
Buku yang dikemas dengan penjelasan sangat sistematis, analitis dan obyektif
ini menuturkan kepada pembaca dan masyarakat luas untuk merefleksikan tentang
makna dan keberadaan televisi di tengah pergulatan masyarakat Indonesia.
Bagaimana sikap kita untuk tidak menelan secara taken for granted tayangan
televisi? Melainkan masyarakat dituntut pula untuk mampu membaca secara kritis
dan obyektif serta menilai televisi agar teror televisi tak berkembang sekehendak
produser televisi.
Disadari atau tidak, kehadiran televisi telah menjadikan sebuah teror bagi
umat manusia. Teror melalui media televisi dari hari ke hari semakin bertambah
akut, riskan, dan berpotensi besar sekali membawa pengaruh psikologis yang cukup
negatif dalam mengubah watak dan mental generasi bangsa Indonesia.
Di mana Televisi menggabungkan hal-hal menarik dari televisi dan radio dan
merupakan salah satu hiburan yang paling populer selama masa kanak-kanak.
Kenyataannya televisi disebut “electronic pied Piper” – sebuah label yang
menyatakan bahwa secara harfiah ia menyita perhatian anak terhadap bentuk
bermain lainnya.
12
Banyak bayi diperkenalkan dengan televisi pada saat mereka masih di tempat
tidur. Baginya, televisi merupakan pengasuh yang setia karena selalu menghibur bila
tidak ada yang melakukan peran tersebut. Bagi sebagian anak prasekolah dan bahkan
anak yang lebih tua, menonton televisi merupakan kegiatan bermain tambahan dan
tidak hanya sebagai pengganti bermain aktif dan bentuk bermain pasif lainnya. Akan
tetapi, bagi kebanyakan anak menonton televisi lebih populer dan lebih banyak
menyita waktu bermainnya ketimbang kegiatan bermain lainnya.
Daya tarik televisi sangat berbeda-beda pada masing-masing anak dan pada
setiap tingkatan usia pada anak yang sama. Beberapa faktor yang mempengaruhi
adanya perbedaan ini disajikan dan dibahas secara singkat dalam faktor yang
mempengaruhi minat anak pada televisi.
WAKTU YANG DlGUNAKAN UNTUK MENONTON TELEVISI Bagi
kebanyakan anak, waktu yang digunakan untuk menonton televisi melebihi proporsi
jumlah waktu yang digunakannya bagi bentuk bermain lainnya. Murray memberi
komentar mengenai berapa banyak waktu Yang dihabiskan anak prasekolah untuk
menonton televisi: “Rata-rata anak prasekolah menghabiskan setengah dari waktu
kerja orang dewasa selama seminggu untuk duduk di depan layar televisi”. Sejak
berusia 3 tahun sampai masuk sekolah pada usia 6 tahun terdapat peningkatan ta;am
dalam jumlah waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi
Studi menunjukkan bahwa rata-rata anak sekolah menghabiskan 20 sampai
21 jam seminggu di depan layar televisi, dengan penurunan sekitar 3 jam selama
musim panas.
Akan tetapi, jumlah waktu yang dihabiskan anak untuk menonton televisi
bukan merupakan bukti sesungguhnya tentang besar kecilnya perhatian anak
terhadap televisi. Jumlah waktu itu mungkin ditentukan oleh peraturan keluarga,
tuntutan pekerjaan sekolah atau tugas di rumah, jumlah televisi yang dimiliki atau
tidak ada televisi sama sekali, berapa banyak anggota keluarga yang berbagi waktu
menonton, dan berbagai kondisi lainnya.
13
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT ANAK PADA TELEVISI
􀂃 Usia. Anak prasekolah menunjukkan minat yang lebih besar pada televisi
ketimbang anak usia sekolah yang mempunyai perhatian bermain yang lebih luas
dan teman bermain yang lebih banyak, serta lebih kritis mengenai segala sesuatu
yang dilihatnya di televisi.
􀂃 Jenis kelamin. Dari segi usia, anak laki-laki lebih banyak menghabiskan
waktunya untuk menonton televisi ketimbang anak perempuan. Anak laki-laki
menganggap membaca lebih sulit ketimbang anak perempuan, juga siaran televisi
yang berpusat pada adegan yang menegangkan lebih disukai anak laki-laki.
􀂃 Inteligensi. Pada semua usia, anak yang pandai kurang memperoleh kepuasan dan
televisi ketimbang teman sebayanya yang kurang pandai dan mereka lebih cepat
kehilangan minatnya.
􀂃 Status sosioekonomi. TV lebih populer bagi anak yang berasal dari kelompok
sosioekonomi rendah ketimbang kelompok yang lebih tinggi Hal ini terutama
benar dengan meningkatnya usia anak, yang sebagian karena anak dalam
kelompok lebih rendah kurang memiliki kesempatan untuk dapat melakukan
bentuk bermain yang lain.
􀂃 Prestasi akademik. Pada setiap tingkatan usia, siswa yang pandai kurang tertarik
pada televisi ketimbang siswa yang kurang panda, Mereka sering menganggapnya
pemborosan waktu untuk menonton acara yang disajikan.
􀂃 Penerimaan sosial. Terdapat hubungan yang era antara jumlah penerimaan sosial
yang dinikmati anak dan perhatian mereka pada TV Semakin mereka diterima
semakin kurang perhatiannya pada televisi dan sebaliknya.
􀂃 Kepribadian. Televisi lebih menarik anak yang penyesuaiannya buruk secara
pribadi dan sosial ketimbang mereka yang baik penyesuaiannya. Anak yang
introvert lebih banyak menonton TV ketimbang anak extrovert.
14
ACARA YANG DISUKA! Ketika anak mulai menonton televisi, mereka melihat
apa saja acara yang tersedia waktu itu. Akan tetapi, dengan s_3era mereka mulai
menunjukkan pilihan acara kesukaannya. Anak prasekolah menyukai drama-%.,35i
yang melibatkan hewan dan orang yang dik.-al, musik, kartun, can komedi
sederhana. Anak Kelas satu dan dua menyukai pertunjukan boneka. koboi, misteri,
humor, suasana kehidupan keluarga dan acara kuis berhadiah. Anak kelas tiga dan
empat tertarik dengan acara yang imajinatif seperti tentang roket dan kendaraan luar
angkasa, dan show, ceritera misteri dan detektif, drama, jaq musik. Anak kelas lima
dan enam tetap menyukai acara tersebut, tetapi mereka juga menyukai ac2r<~ yang
berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan hasta karya. Ceritera, komedi, kartun, dan
musik disenangi anak pada setiap tingkat usia, sedangkan acara pendidikan
cenderung tidak populer terutama di' kalangan anak yang rendah kecerdasannya
Hanya apabila acara pendidikan disajikan dengan care yang menarik, s=perti
"Sesame street” barulah acara itu akan mempunyai dayatarik yang kuat bagi anak
dengan berbagai tingkat kecerdasan sebagaimana halnya dengan acara yang
berorientasi hiburan.
Pilihan acara pada anak kecil sangat dipengaruhi oleh bimbingan dan
dorongan orang tua. Kelak para guru membantunya memilih acara yang dianggapnya
menarik, bermanfaat, clan informatif. Untuk anak yang lebih tua pilihan acara lebih
dipengaruhi teman sebaya ketimbang para orang tua clan guru.
EVALUASI Dan segi jumlah waktu yang dihabiskan anak untuk menonton televisi,
cukup masuk akal untuk menganggap bahwa hal itu menimbulkan pengaruh
mendalam pada anak. Karena pengaruh ini, keprihatinan orang tua terhadap acara
televisi dapat dimengerti. Sejak adanya televisi, orang tua, pendidik, hamba hukum,
clan kalangan agama telah menunjukkan keprihatinan yang besar mengenai pengaruh
televisi terhadap anak. Keprihatinan berkisar dari gangguan televisi terhadap
kegiatan membaca clan kegiatan di kala senggang sampai pengaruhnya terhadap
perilaku moral clan hubungannya dengan peningkatan kenakalan remaja. Kesalahan
tidak terletak pada televisi saja melainkan juga pada jenis acara yang tersedia bagi
anak.
15
Semua penelitian tentang pengaruh menonton televisi telah menunjukkan
bahwa tinggi rendahnya pengaruh itu terhadap anak bergantung pada banyak kondisi,
tiga di antaranya yang sangat penting diuraikan berikut ini.
Pertama, seberapa besar pengaruh televisi clan apakah pengaruh ini baik atau
buruk ditentukan oleh jumlah bimbingan dan pengawasan terhadap anak yang
menontonnya , Apabila orang tua menyediakan waktu untuk menafsirkan apa yang
dilihat anak di layar televisi sebagaimana mereka lakukan bila membacakan buku
bagi mereka atau memberi buku untuk dibaca, anak-anak akan mengerti clan
menafsirkan apa yang dilihatnya dengan benar. Selanjutnya, dengan bimbingan clan
pengawasan atas acara yang akan ditonton anak, mereka dapat mempelajari pola
perilaku dan nilai yang sehat yang akan membimbing ke arah sosialisasi yang baik
dan tidak ke nilai clan pola perilaku yang tidak sehat. Leifer clan kawan-kawan
menyatakan "Televisi bukan saja hiburan bagi anak-anak melainkan juga merupakan
alat untuk memasyarakat yang baik bagi mereka."
Kedua, seberapa banyak anak dapat mengingat hal-hal yang mereka lihat di
layar dan seberapa baik pemahaman mereka akan menimbulkan pengaruh yang nyata
pada mereka. Misalnya, jika mereka menafsirkan kekerasan di televisi sebagai pola
perilaku yang direstui masyarakat clan model yang benar untuk ditiru, maka
pengaruhnya akan sangat berbeda ketimbang apabila mereka menafsirkannya sebagai
pola perilaku yang tidak direstui dalam masyarakat.
Ketiga, sejauh mana televisi mempengaruhi anak bergantung pada jenis anak
sendiri sebagai hasil pengalaman lainnya. Dari penelitian mereka tentang pengaruh
televisi pada sekitar 6000 anak, Schramm dan kawan-Kawan menekankan faktor ini
sebagai penentu yang penting dari pengaruh televisi, dengan pernyataan berikut :
Yang lebih penting daripada apa yang dibawa televisi kepada anak adalah apa
yang dibawa anak kepada televisi. Ini merupakan tanggung jawab kita Anak
yang bagaimana yang kita bawa ke depan televisi? … Apabila kita menggunakan
televisi sebagai penjaga bayi, dengan mempertaruhkan hubungannya dengan
orang lain, jelas kita lalai. Apabila kita tidak memperkenalkan buku kepada
anak-anak hanya karena adanya televisi, maka kita bertindak ceroboh. Bila kita
16
tidak membantu anak untuk mernbangun hubungan yang baik dengan semen
sebayanya hanya karena televisi "menjaga mereka di rumah" maka kita benarbenar
bersalah terhadap mereka.
Keprihatinan mengenai pengaruh menonton televisi terhadap anak
mendorong diadakannya sejumlah penelitian ilmiah untuk mengetahui seberapa
besar pengaruhnya terhadap sikap dan perilaku anak dan apakah pengaruh ini
langsung terjadi, dalam jangka panjang, atau keduanya. Beberapa penelitian
menyimpulkan bahwa, menonton televisi menimbulkan pengaruh yang baik; yang
lain menganggap merusak. Namun, terdapat kesepakatan yang hampir serempak
tentang satu hall. "Anak yang penyesuaiannya baik kurang kemungkinannya
terpengaruh secara negatif, apakah temporer atau permanen dibandingkan dengan
anak yang buruk penyesuaiannya, dan anak yang sehat ketimbang yang tidak sehat".
Akan tetapi, jika gangguan psikologis akibat menonton televisi ingin
dikurangi dan keuntungan psikologis perlu ditingkatkan, jelaslah harus ada
bimbingan clan kendali atas acara apa saja yang dilihat anak ketimbang yang
sekarang diberikan di rumah. Jelaslah bahwa bidang bermain ini membutuhkan
bimbingan clan kendali lebih banyak ketimbang bidang lainnya, bahkan lebih banyak
ketimbang membaca komik.
LAPORAN TENTANG PENGARUH TELEVISI TERHADAP ANAK
PENGARUH FISIK
Menonton televisi sering mengganggu jadwal makan dan tidur. Pencernaan akan
terganggu dan kurang tidur.
PENGARUH PADA BENTUK BERMAIN LAINNYA
Menonton televisi mengurangi waktu yang tersedia bagi kegiatan bermain lainnya,
terutama bermain di luar dengan anak lain. Menonton televisi juga mengurangi
waktu untuk bermain kreatif atau berbagai bentuk hiburan lain.
17
PENGARUH PADA PEKERJAAN SEKOLAH
Televisi menyajikan informasi dengan cara yang menggairahkan dan hidup sehingga
buku pelajaran hampir tidak dapat menyainginya untuk menarik minat anak.
Akibatnya, mereka sering menganggap buku dan pekerjaan sekolah mernbosankan.
PENGARUH PADA HUBUNGAN KELUARGA
Menonton televisi sering membatasi interaksi sosial antar anggota keluarga dan
membatasi percakapan.
MOTIVASI UNTUK MEMPEROLEH
PENGETAHUAN
Beberapa anak termotivasi untuk mengikuti apa yang dilihatnya di layar televisi
dengan mernbaca untuk mengisi kesenjangan pengetahuan mengenai hal tersebut.
PENGARUH PADA SIKAP
Tokoh di televisi biasanya digarnbarkan dengan berbagai stereotip. Anak kemudian
berpikir bahwa semua orang dalam kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama
dengan orang di layar televisi. Ini mempengaruhi sikap anak terhadap mereka.
PENGARUH PADA NILAI
Menu acara yang terus-menerus menunjukkan adegan pembunuhan, penyiksaan, dan
kekejaman pada saatnya akan menumpulkan kepekaan dan mendorong
pengembangan nilai anak yang tidak sejalan dengan nilai mayoritas kelompok sosial.
Apabila anak terbiasa dan tidak peka terhadap kekerasan, mereka akan menerima
perilaku itu sebagai pola hidup yang normal.
PENGARUH PADA PERILAKU
Karena anak suka meniru, mereka merasa bahwa apa saja yang disajikan dalam acara
televisi tentunya merupakan cara yang dapat diterima baginya dalam bersikap seharihari.
Karena para pahlawan yang patuh kepada hukum kurang menonjol ketimbang
mereka yang memenangkan perhatian dengan kekerasan dan tindakan, sosial lainnya,
anak-anak cenderung menggunakan cara yang terakhir untuk mengidentifikasi diri
dan menirunya.
18
PENGARUH PADA CARA BERBICARA
Cara berbicara anak sangat dipengaruhi oleh apa yang didengarnya diucapkan orang
di televisi dan bagaimana ca.-a mengucapkannya. Ini akan meningkatnya pelafalan
dan tata bahasa, namun belum tentu akan memberi pola yang baik dalam
pengungkapan hal-hal yang dikatakan anak.
MODEL UNTUK PERAN DALAM HIDUP
Tokoh televisi memberi model untuk berbagai peran dalam kehidupan, perilaku yang
sesuai dengan jenis kelamin, dan karir. Hal ini memberi mereka wawasan mengenai
apa yang diharapkan kelompok sosial dari mereka.
PENGARUH PADA KEYAKINAN
Banyak anak yak n bahwa apa saja yang dikatakan di televisi merupakan hal yang
benar dan bahwa penyiar televisi Iebih mengetahui segala sesuatu ketimbang para
orang tua, guru, dan dokter. Hal ini cenderung membuat anak mudah tertipu.
Sayang sekali, bimbingan dan kendali ini sering kurang. Jika tema clan
gambar komik merusak, para orang tua dan guru mencoba menjauhkannya dari
jangkauan anak. Tekanan sosial di berbagai masyarakat telah memaksa para
pedagang untuk meniadakan komik yang merusak dari pasaran. Sayang bahwa masih
terlalu sedikit orang tua yang memprihatinkan kualitas televisi yang ditonton anak.
Mereka mendorong anak untuk menonton bila merasa lelah atau sedang sibuk tanpa
memperlihatkan siaran yang sedang ditayangkan. Karena banyak orang tua yakin
bahwa televisi mempunyai nilai mendidik, mereka membiarkan anak dari segala usia
untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengan menonton ketimbang memilihkan
yang balk baginya. Orang tua dari kelompok sosioekonomi rendah lebih
mengizinkan menonton televisi ketimbang mereka yang berasal dari kelompok
menengah atas.
19
Dalam hal ini adapun tips mengurangi pengaruh televisi pada anak, yaitu :
1. Berikan teladan
Sikap orangtua akan ditiru anak. Sebaiknya orangtua lebih dulu menentukan batasan
bagi dirinya sendiri dulu sebelum membuat batasan bagi anaknya. Misalnya,
orangtua hanya menonton TV pada saat merasa lelah atau bosan pada kegiatan lain.
Dengan begitu, Anda tidak menjadikan menonton TV sebagai menu utama setiap
hari. Jangan hidupkan TV sepanjang waktu. Matikan TV ketika sedang makan,
berdoa bersama, bercengkerama, atau belajar (Bimbingan Belajar).
2. Hindari memanfaatkan TV sebagai babysitter.
Di tengah kesibukan kerja, para orangtua lebih merasa aman dan tenang jika anak
duduk manis di depan pesawat TV ketimbang main di luar. Tingginya angka
kejahatan dan semrawutnya lalu lintas sudah membuat orangtua mengkhawatirkan
keselamatan putra- putrinya. Untuk mengalihkan menonton TV, berikanlah aktivitas
positif bagi anak seperti ikut kursus, olahraga (Kursus Bidang Olahraga), berkebun
(Kursus Berkebun), mewarnai (Kursus Menggambar), memancing, membantu
memasak, dan sebagainya.
3. Buat jadwal.
Ajak anak bersama-sama membuat jadwal kegiatan anak pulang sekolah. Yang
penting beri porsi tidak lebih dari dua jam untuk menonton TV.
4. Letakkan pesawat TV di tempat terbuka.
Dengan begitu Anda bisa memantau acara apa yang sedang ditonton anak. Namun
begitu, usahakan juga letak pesawat TV tidak menjadikannya sebagai pusat aktivitas
keluarga. Jangan menempatkan TV di kamar anak (kalau radio boleh).
5. Pakailah TV untuk mendidik.
Ada beberapa acara TV yang bagus ditonton bersama seperti program dokumentasi,
edutainment (tayangan edukatif yang menghibur seperti discovery), kuis, olahraga,
konser musik klasik, talk show, (lihat dahulu "Acara TV" yang layak ditonton —
biasanya terdapat di koran).
20
6. Diskusikan adegan anti sosial di TV.
Ajaklah anak membahas: Apakah kata-kata kasar yang diucapkan patut ditiru?
Apakah perilaku kekerasan itu layak dicontoh? Apakah setiap masalah harus
diselesaikan dengan berkelahi? Diskusikan dan bandingkan nilai-nilai yang ada
dalam TV dengan nilai agama.
7. Terangkan antara fakta dan fiksi.
Anak masih kesulitan membedakan antara fiksi dan fakta. Tokoh drakula yang Anda
anggap biasa saja, bisa membuat anak ketakutan dan susah tidur. Terangkan proses
pembuatan film/sinetron laga dan misteri, termasuk trik-trik pembuatannya. Apakah
darah yang muncrat itu sungguhan? Mengapa jagoannya bisa terbang? Jelaskan
bahwa untuk adegan yang berbahaya dilakukan pemeran pengganti yang terlatih.
Ada teknik tertentu untuk men-mat pemainnya bisa mengecil, menghilang dan
menembus tembok. Jelaskan juga tali (sling) yang dipakai untuk membuat
pemainnya bisa melayang.
8. Diskusikan tayangan iklan.
Mengapa ada iklan di TV? Apa tujuan iklan? Mengapa Man selalu tampak menarik?
Apakah iklan pernah menunjukkan kekurangan barang yang diiklankan? Apakah
iklan yang bagus berarti barang yang diiklankan pasti bagus? Tunjukkan barangbarang
yang paling sering diiklankan di TV. Ajak anak membandingkan: lebih bagus
mana penampilan sebenarnya dengan yang di TV?
9. Rumuskan bersama aturan menonton TV.
Aturan ini berlaku untuk semua anggota keluarga, juga pembantu, babysitter, famili,
teman, tamu atau tetangga yang nebeng menonton.
10. Tolaklah semua media yang mengandung kekerasan.
Bukan hanya TV, PlayStation pun mengandung banyak adegan kekerasan. Buatlah
kesepakatan bahwa tidak ada tempat dalam keluarga bagi media yang mengandung
21
kekerasan. Entah itu berupa TV, VCD/CD, PlayStation, Video Games, radio, kaset
atau bacaan.
Diperkirakan bahwa anak di Amerika menonton acara televisi rata-rata
selama 30-40 jam/minggu. Jangka waktu ini lebih larna daripada waktu yang mereka
habiskan di sekolah dan bagi kebanyakan anak, menonton televisi merupakan
kegiatan utama mereka yang dijadwalkan. Televisi menempatkan anak dalam
peranan pasif dan menyuguhkan hiburan yang pada umumnya hanya sedikit meminta
keterlibatan atau imajinasi mereka. Televisi telah menggoda mereka dan menjauhkan
mereka dari kegiatan-kegiatan yang penting, misalnya membaca, melakukan suatu
kegemaran / hobi, kegiatan/latihan fisik dan pergaulan dan hubungan dengan anak
sebaya mereka, maupun dengan anggota keluarga yang lain.
Program-program pendidikan, yang ditujukan buat anak usia prasekolah,
yang disiarkan melalui acara televisi dapat memperbesar perkembangan kognitif
dalam kesiapan untuk membaca dan memperkaya perbendaharaan kata-kata mereka.
Namun, sebaiknya pencapaian yang dapat dijangkau oleh acara yang demikian itu
hanya lebih banyak bersifat suplementer daripada substitusi kegiatan-kegiatan orang
tua untuk menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan informasi dan dalam
memotivasikan mereka untuk belajar televisi dapat memberikan informasi kepada
anak yang telah berusia lebih tua mengenai peristiwa-peristiwa yang baru terjadi, ,
masalah-masalah politik, sejarah dan ilmu pengetahuan; namun, televisi tersebut
lebih banyak memperlihatkan adegan-adegan kekerasan yang dapat dipergunakan
oleh anak sebagai contoh bagi tingkah laku agresif mereka. Pengaruh kekerasan yang
mereka saksikan pada film-film akan meningkatkan keagresifan antar pribadi di
kalangan anak-anak. Para optimis dapat berharap bahwa kebanyakan anak mampu
memisahkan diri mereka dari suguhan kekerasan yang secara teratur terus-menerus
mereka terima melalui layar televisi; tetapi anak dengan mudah meniru semua contoh
yang mereka saksikan dan pengaruh yang diberikan oleh kekerasan-kekerasan yang
disuguhkan oleh televisi mungkin jauh lebih meresap daripada yang kita ketahui
dewasa ini. Tetapi dapat dipastikan bahwa beberapa orang anak, yang mengalami
gangguan secara emosional, dapat bertindak terang-terangan secara agresif, sebagai
22
akibat langsung daripada acara-acara kejahatan dan kengerian yang mereka saksikan
di layar televisi dan tindakan yang mereka lakukan itu mengikuti contoh-contoh yang
disuguhkan tersebut.
Perhatian mengenai dampak kekerasan televisi pada anak juga agak
diperlukan. Walaupun penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kekerasan pada
televisi yang mempengaruhi anak adalah mereka yang telah berisiko untuk perilaku
agresif, penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa salah satu alat peramal
tunggal terbaik tentang kekerasan remaja di masa yang akan datang adalah jumlah
program kekerasan televisi yang dilihat selama masa anak. Lagipula, bila menonton
televisi diganti dengan kasih sayang dan bimbingan orangtua, terutarna pada tahuntahun
prasekolah, suatu sumber kognitif dan afektif anak untuk meniru, beradaptasi
dan kemampuannya untuk memainkan khayalan mungkin terpengaruh. Penelitian
baru-baru ini menunjukkan bahwa anak prasekolah yang terangsang berlebihan dan
kurang pengasuhan demikian adalah kurang bahagia dan lebih agresif pada
permainan bebasnya pada pusat perawatan anak dan sekolah taman kanak-kanak.
Pilihan lain adalah program televisi pendidikan yang khusus dirancang untuk anak
prasekolah dapat memperbesar perkembangan kognitif dalam kesiapan memhaca dan
kemahiran kata-kata. Televisi dapat memberi informasi anak yang lebih tua tentang
kejadian-kejadian sekarang, politik, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Program
demikian dapat menambah bulannya mengganti aktivitas orangtua; dapat
memberikan pengetahuan, ketrampilan, dan informasi; clan dapat memotivasi
belajar.
Oleh karena itu, hendaknya semua orang tua mengetahui apa sebenarnya
yang disaksikan oleh anak mereka pada layar televisi. Mereka yang harus
menentukan dan memutuskan apakah suatu acara pantas atau tidak untuk anak-anak
mereka. Dalam hal ini, mereka hendaknya tidak segan-segan mempergunakan tolok
ukur mereka sendiri dalam memaksakan pembatasan-pembatasan mengenai waktu
dan acara televisi yang boleh ditonton oleh anak-anak mereka.
23
DAFTAR PUSTAKA
1. Behiman, Richard E Dkk. 1999. ILMU KESEHATAN ANAK
NELSON Vol 1, EGC : Jakarta.
2. Venny, Adriana. 2004. Jurnal Perempuan Untuk Pencerahan dan
Kesetaraan Yayasan Jurnal Perempuan : Jakarta
3. Behirman, Richard E dan Rictor C. Vaughian. 1988. Ilmu Kesehatan
Anak.EGC : Jakarta.
4. Hurlock, Elizabeth B. 1978. Perkembangan anak Jilid 1 Edisi
Keenam. Erlangga : Surabaya
5. Muscari, Mary E. 2005. Keperawatan Pediatrik Edisi 3. EGC :
Jakarta
6. Merenstein, Gerald B Dkk. 2001. Buku Pegangan Pediatrik Edisi 17 :
Widyamedika : Jakarta
7. Arroiji, K. H. Abdurrahman. 1997 Bercinta Dengan Televisi.
PT. Remaja Rosdakarya : Bandung
8. http ://www.sabda.org
9. http ://www.pdpersi.co.id
10.http ://www.info.balitacerdas.com
11.http ://www.dik.dasmen.org/html/info

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s